gemini
Manajemen Keuangan
Rabu, 27 Mei 2009
Jumat, 03 April 2009
gemini
Profil Pelabuhan Perikanan Indonesia
Berdasarkan Peraturan Menteri Kelautan dan Perikanan Nomor: PER.16/MEN/2006 tentang Pelabuhan Perikanan, Pelabuhan Perikanan dibagi menjadi 4 kategori utama yaitu :
• PPS (Pelabuhan Perikanan Samudera)
• PPN (Pelabuhan Perikanan Nusantara)
• PPP (Pelabuhan Perikanan Pantai)
• PPI (Pangkalan Pendaratan Ikan)
Pelabuhan tersebut dikategorikan menurut kapasitas dan kemampuan masing-masing pelabuhan untuk menangani kapal yang datang dan pergi serta letak dan posisi pelabuhan.
Karakteristik Kelas Pelabuhan PPS, PPN, PPP, dan PPI :
No Kriteria Pelabuhan Perikanan PPS PPN PPP PPI
1 Daerah operasional kapal ikan yang dilayani Wilayah laut teritorial, Zona Ekonomi Ekslusif (ZEEI) dan perairan internasional Perairan ZEEI dan laut teritorial Perairan pedalaman, perairan kepulauan, laut teritorial, wilayah ZEEI Perairan pedalaman dan perairan kepulauan
2 Fasilitas tambat/labuh kapal >60 GT 30-60 GT 10-30 GT 3-10 GT
3 Panjang dermaga dan Kedalaman kolam >300 m dan >3 m 150-300 m dan >3 m 100-150 m dan >2 m 50-100 m dan >2 m
4 Kapasitas menampung Kapal >6000 GT (ekivalen dengan 100 buah kapal berukuran 60 GT) >2250 GT (ekivalen dengan 75 buah kapal berukuran 30 GT) >300 GT (ekivalen dengan 30 buah kapal berukuran 10 GT) >60 GT (ekivalen dengan 20 buah kapal berukuran 3 GT)
5 Volume ikan yang didaratkan rata-rata 60 ton/hari rata-rata 30 ton/hari - -
6 Ekspor ikan Ya Ya Tidak Tidak
7 Luas lahan >30 Ha 15-30 Ha 5-15 Ha 2-5 Ha
8 Fasilitas pembinaan mutu hasil perikanan Ada Ada/Tidak Tidak Tidak
9 Tata ruang (zonasi) pengolahan/pengembangan industri perikanan Ada Ada Ada Tidak
Pelabuhan Perikanan Samudera (PPS)
Pelabuhan perikanan samudera (PPS), dikenal juga sebagai pelabuhan perikanan type A, atau kelas I.
Pelabuhan perikanan ini dirancang terutama untuk melayani kapal perikanan berukuran > 60 GT.
Pelabuhan ini dapat menampung 100 buah kapal atau 6000 GT sekaligus, dapat pula melayani kapal ikan yang beroperasi di perairan lepas pantai, ZEE dan perairan internasional.
Jumlah ikan yang didaratkan sekitar 40.000 ton / tahun dan juga memberikan pelayanan untuk ekspor.
Selain itu tersedia juga tanah untuk industri perikanan.
Perum Prasarana Perikanan Samudera adalah badan yang bertanggungjawab tehadap pelabuhan perikanan ini. Perusahaan ini bertujuan untuk :
1. Meningkatkan pendapatan masyarakat nelayan melalui penyediaan dan perbaikan sarana dan / atau prasarana pelabuhan perikanan.
2. Mengembangkan wiraswasta perikanan serta untuk memasang dan / atau mendorong usaha industri perikanan dan pemasaran hasil perikanan.
3. Memperkenalkan dan mengembangkan teknologi hasil perikanan dan sistem rantai dingin dalam perdagangan dan industri di bidang perikanan.
Pelabuhan Perikanan Nusantara (PPN)
Pelabuhan Perikanan Nusantara (PPN), dikenal juga sebagai pelabuhan perikanan tipe B atau kelas II. Pelabuhan ini dirancang terutama untuk melayani kapal perikanan berukuran 15 - 16 ton GT sekaligus. Pelabuhan ini juga melayani kapal ikan yang beroperasi di perairan ZEE Indonesia dan perairan nasional. Jumlah ikan yang didaratkan sekitar 40 - 50 ton / hari atau sekitar 8.000 - 15.000 ton / tahun.
Pelabuhan Perikanan Pantai(PPP)
Pelabuhan perikanan Pantai (PPP) dikenal juga sebagai pelabuhan perikanan type C atau kelas II.
Pelabuhan ini dirancang untuk melayani kapal perikanan berukuran 5 - 15 GT.
Pelabuhan ini dapat menampung 50 kapal atau 500 GT sekaligus.
Pelabuhan ini juga melayani kapal ikan yang beroperasi di perairan pantai.
Jumlah ikan yang didaratkan sekitar 15 - 20 ton / hari atau sekitar 4.000 ton / tahun.
Pelabuhan Perikanan Pantai(PPP)
Pelabuhan perikanan Pantai (PPP) dikenal juga sebagai pelabuhan perikanan type C atau kelas II.
Pelabuhan ini dirancang untuk melayani kapal perikanan berukuran 5 - 15 GT.
Pelabuhan ini dapat menampung 50 kapal atau 500 GT sekaligus.
Pelabuhan ini juga melayani kapal ikan yang beroperasi di perairan pantai.
Jumlah ikan yang didaratkan sekitar 15 - 20 ton / hari atau sekitar 4.000 ton / tahun.
Mulai 2006, DKP Bangun Pelabuhan Perikanan Modern
Dikirim Oleh: Developer pada 24 Juni 2005 10:07:31 PM
PEKANBARU (Riau Online): Menurut rencana, mulai tahun 2006 Dinas Kelautan dan Perikanan (DKP) Provinsi Riau akan membangun pelabuhan perikanan modern yang akan dibangun di Tanjung Samak Pulau Rangsang Kabupaten Bengkalis.
PEKANBARU (Riau Online): Menurut rencana, mulai tahun 2006 Dinas Kelautan dan Perikanan (DKP) Provinsi Riau akan membangun pelabuhan perikanan modern yang akan dibangun di Tanjung Samak Pulau Rangsang Kabupaten Bengkalis.
"Rencananya pembangunan pelabuhan perikanan modern ini akan dibangun dalam beberapa tahap seperti sistem multi years yang dananya berasal dari APBN dan APBD Provinsi Riau,"kata Kepala DKP Provinsi Riau, Prof Dr H Tengku Dahril,MSc, Kamis (23/2).
Dengan dibangunnya pelabuhan perikanan di Tanjung Samak Pulau Rangsang ini, merupakan pelabuhan perikanan modern pertama di Riau yang natinya akan dilengkapi dengan berbagai fasilitas, karena saat ini di Riau hanya ada Tempat Pelelangan Ikan (TPI) yang ada di Kota Dumai.
Menurutnya, pelaksanaan pembangunan pelabuhan perikanan modern ini dilakukan secara bertahap karena jumlah anggaran yang dibutuhkan cukup besar, sehingga tidak bisa dianggarkan sekaligus.
"Untuk lahan yang akan dijadikan areal pelabuhan Perikanan Modern ini, saat ini tidak ada masalah lagi, karena tahun 2005 lalu Pemkab Bengkalis telah melakukan pembebasan lahan, karena sesuai dengan kesepakatan bahwa untuk penyediaan lahan akan dilakukan Pemkab Bengkalis,"terang Tengku.
Pelabuhan Perikanan modern ini nantinya akan dilengkapi berbagai fasilitas untuk sebuah pelabuhan perikanan modern antara lain dermaga, pabrik es, cool storage, laboratorium pengendalian mutu serta infrastruktur lainnya yang dibutuhkan untuk pengembangan pelabuhan perikanan.
Sedangkan untuk jangka menengah, pelabuhan perikanan ini juga akan dibangun pabrik pengolahan hasil perikanan untuk tujuan ekspor yang pembangunannya akan ditawarkan kepada investor, sehingga aktifitas pengolahan hasil perikanan bisa dilakukan dalam satu kawasan.
"Tetapi untuk tahap awal, mulai tahun 2006 ini yang akan segera dibangun adalah dermaga perikanan, karena anggaran dananya juga masih terbatas, untuk tahap awal ini dana yang berasal dari APBN untuk pembangunan dermaga baru Rp1 Miliar,"tandasnya.(ea)
Diposting oleh Special di 09.20 0 komentar
Selasa, 31 Maret 2009
Nautika Perikanan Laut

PENGAMATAN PENGOPERASIAN
PURSE SEINE
DI KM. MINA GRAHA
JUWANA –PATI (JAWA TENGAH)
Disusun Oleh:
FRANCISCO X.B.M PURNAMA
D4206-080
Latar Belakang
Sumber daya perikanan pelagis merupakan salah satu sumber daya perikanan yang paling melimpah di Indonesia.
Pemanfaatan sumber daya perikanan pelagis semakin intensif sejak mulai beroperasinya armada pukat cincin.
Alat tangkap purse seine merupakan alat tangkap berupa jaring yang berukuran besar, dimana cara pengoperasiannya melingkari gerombolan ikan.
tujuan
Mengetahui tentang teknik pengoperasian purse seine.
untuk mengetahui cara kerja alat tangkap secara langsung.
mengetahui komposisi hasil tangkapan dari alat tangkap purse seine khususnya untuk perairan Indonesia.
maanfaat
dapat mengetahui segala kegiatan yang ada di kapal.
Berpengalaman dalam kegiatan produksi di industri yang relevan.
Memperoleh pengalaman yang nyata dalam bidang industri.
1. Definisi Alat Tangkap
Purse seine adalah alat (gear) yang digunakan untuk menangkap ikan pelagis yang membentuk gerombolan (schooling). Pukat cincin digolongkan pada alat tangkap “jaring lingkar” derngan tali kerut (purse seine) yang merup[akan alat tangkap ikan pelagis yang membetuk gerombolan dalam bentuk-bentuk renang (yaitu : tongkol, layang, kembung dan jenis ikan lainnya).
2.Syarat-syarat daerah penangkapan untuk alat tangkap purse seine yang baik
Perairan yang terdapat ikan hidup yang bergerombol (schooling).
Jenis ikan-ikan tersebut dapat dikumpulkan dengan pengumpul (lampu dan rumpon).
Keadaan perairan sebaiknya lebih dalam daripada alat yang dipergunakan.
3. Persiapan pengoperasian
Kegiatan pengoperasian meliputi :
a.Persiapan di darat
Mempersiapkan surat-surat kapal seperti SIPI (Surat Izin penangkapan Ikan).
Menghubungi kapal purse seine yang masih berada di laut tentang fishing ground.
Mempersiapkan pembekalan yang akan dibutuhkan selama berlayar.
b.Persiapan selama menuju fishing ground
Memperbaiki jaring yang sobek.
Memasang perlengkapan yang akan digunakan dalam operasi penangkapan.
Mengecek lampu galaksi dan mengganti jika ada yang rusak.
4. Bahan dan Alat Tangkap
Bahan :
Bahan bakar
Bahan makanan
Air tawar
Es
Oli
Alat :
Satu unit kapal penangkapan ikan.
5. Teknik pengoperasian
1. Setting
Pukul 09.00 malam seluruh ABK mengadakan pengamatan terhadap keadaan arus, angin dan keadaan ikan seperti melihat jumlah ikan dan ada tidaknya lumba-lumba yang berenang disekitar gerombolan ikan. Setelah melihat kondisi ikan memungkinkan untuk dilaksanakan setting maka diadakan persiapan sebagai berikut :
Nahkoda mematikan lampu galaksi dimulai dari haluan, dengan jarak 5 menit.
Surface lamp diturunkan, dan mulai bergerak menjauhi kapal.
Setelah semua lampu galaksi dimatikan, maka kapal dengan kecepatan 2-3 knot mulai menjauhi surface lamp. Setelah jarak antara surface lamp dan kapal diperkirakan cukup oleh nahkoda maka dilaksanakan setting.
Setting dimulai dengan melempar pelampung utama. Kapal bergerak maju dengan kecepatan 2-3 knot dan proses setting berhenti setelah kedua ujung jaring bertemu dan proses selanjutnya adalah pursing.
2. Pursing
Pursing dimulai langsung setelah kedua jaring bertemu di lambung kanan kapal, dimaksudkan agar gerombolan ikan segera terkurung dengan menggunakan winch.
Pursing berakhir jika seluruh cincin naik keatas deck ini berarti jaring telah membentuk kantong.
3. Hauling
Setelah semua cincin naik maka dilaksanakan proses hauling dengan menarik jaring, pelampung secara bersamaan serta penyusunan tali kerut sampai jaring tinggal bagian kantong. Secara teknis jaring ditarik dengan tangan, tapi jika terjadi keadaan ikan yang sangat banyak dan arus yang kencang maka jaring diikat tali dan ditarik dengan menggunakan winch. Pada saat hauling posisi jaring tidak sering berbentuk sempurna (lingkaran penuh) karena kondisi angin dan arus yang berubah-ubah maka jaring yang kusut ditarik oleh juru arus yang membawa surface lamp.
4. Brailing
Ikan telah terkumpul pada kantong jaring maka ABK segera menyiapkan caduk mengambil ikan yang telah terkumpul di kantong dengan cara menjatuhkan caduk ke air serta mendorong bagian bawah dari caduk dengan kayu kemudian caduk ditarik dengan menggunakan winch.
Proses brauling sebaiknya dilakukan secepat mungkin agar kualitas ikan tetap segar, karena ikan hasil tangkapan sebaiknya jangan terlalu lama di udara yang menyebabkan terjadinya bakteri perusak.
Label: Aplikasi
Diposting oleh Special di 23.24 2 komentar
